Beranda » Tips & Trik » Melihat Hasil Seni yang Mempesona di Museum Neka (Neka Art Museum)

Neka Art Museum atau Museum Neka merupakan sebuah galeri dan museum yang didirikan oleh pencinta seni dari Bali yang bernama Wayan Suteja Neka. Museum ini dibangun pada tahun 1976 dan diresmsikan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 1982.
Di dalam Musem Neka terdapat beragam koleksi lukisan dan patung yang dipajang di enam bangunan yang berbeda dengan nuansa Bali yang khas. Museum ini terletak di Jalan Raya Campuhan yang berada di Desa Kedewataan yakni di sebelah Barat Laut Ubud.
Enam bangunan yang berada di Museum Neka memiliki beragam koleksi yang cukup banyak seperti lukisan, patung, dan keris Bali. Keris yang ada di sini merupakan barang pribadi Wayan Suteja Neka yang juga menjadi generasi penerus pande besi Bali. Seluruh bangunan di sini dibuat sedikimikan rupa dan diatur tata letaknya sesuai dengan arsitektur khas Bali.
Bangunan utama dari Museum Neka terdiri dari empat bagian ruang pameran. Ruang pameran A berisikan lukisan khas Bali dengan gaya klasik wayang Kamasan yang menceritakan cerita Ramayana dan Mahabarata serta lukisan yang menceritakan mitos dan legenda dari Jawa dan Bali.
Ruang pameran B dan C dari Museum Neka berisikan lukisan dengan gaya yang dipengaruhi oleh aliran Barat yang dikembangan pada tahun 1920 di Ubud, setelah itu gaya lukisan tersebut dikenal menjadi lukisan gaya Ubud.
Pengaruh gaya lukisan Barat tersebut dibawah oleh seorang seniman Jerman yang bernama Walter Spies dan seniman Belanda yang bernama Rudolf Bonnet. Kedua seniman tersebut mengenalkan teknik lukisan mereka di bayangan, pencahayaan, perspektif dan anatomi dari subjek lukisan. Sedangkan di ruang Pameran D berisikan dengan lukisan bergaya Batuan yang berasal dari desa.
Pada bangunan kedua dari Musuem Neka ditujukan untuk paviliun Arie Smit yaitu seorang pria Indonesia yang lahir di Belanda kemudian tinggal di Bali. Nama lengkap pelukis tersebut adalah Adrianus Wilhelmus (Arie) Smit. Paviliun seni itu dibuat berdasarkan kekaguman dari seniman Neka kepada Arie sebagai seseorang yang turut mengembangkan seni di Ubud.
Pada bangunan ketiga merupakan bangunan yang berisikan karya fotografi. Di sini, pengunjung dapat menjumpai berbagai macam foto hitam dan putih terutama yang diambil oleh orang Amerika yang bernama Robert Koke yang datang pada tahun 1930. Dia merupakan sala satu ekpatriat yang paling awal datang di Bali.
Di bangunan keempat merupakan paviliun Lempad yang tujukan untuk menghormati pematung dan artsteik dari Bali yang bernama Gusti Nyoman Lempad. Lempad dikenal sebagai seniman Bali dengan kemampuan gaya melukis yang unik. Tema yang diangkat oleh seniman ini adalah legenda local dan rural kehidupan desa di Bali.
Bangunan kelima merupakan tempat karya sendi kontemporer dan modern dari Indonesia yang terbagi menjadi 5 ruang pameran. Dan bangunan keenam berisikan lukisan dengan gaya Barat dan Timur. Di lantai dua-nya, didedikasikan sebagai tempat untuk mendedikasikan hasil kerja seniman terkenal yang berasal dari Indonesia dan Internasional.


# Bagikan informasi ini kepada teman atau kerabat Anda

Belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi.

Komentar Anda* Nama Anda* Email Anda* Website Anda

Kontak Kami

Apabila ada yang ditanyakan, silahkan hubungi kami melalui kontak di bawah ini.